Tampilkan postingan dengan label Saky*cerpen*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saky*cerpen*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

First Love Forever Love Part 2




Sumber gambar di sini 


Setelah penembakkan dua hari lalu Dimas sering sekali mengirimiku pesan singat sok perhatian dan rayu-rayuan gombalnya. Aku sangat bahagia akhirnya cinta yang kukira akan melukaiku ternyata membuatku sangat berbunga-bunga. Dimas juga menjemputku dan mengantarku. Mama Papa sangat senang melihat kedekatanku dengan Dimas.

Di kelas aku tak pernah melihat Dimas dan Niken bertegur sapa. Melirik saja mereka enggan. Aku lega melihat keadaan ini. Niken tak lagi mengganggu kehidupanku dan juga Dimas. Dimas mengodaiku dan memperhatikanku lebih dari biasanya. Sebagian teman mengerti jika aku dan Dimas sepasang kekasih baru, sebagian lainnya tidak begitu peduli karena sebelumnya aku dan Dimas memang telah dekat.

Aku rasa Niken menjauhi Dimas karena dia mengetahui dari teman-teman kalau Dimas telah menjadi milikku. Dia tak ingin dibilang orang ketiga. Aku tidak memperdulikan alasan-alasan Niken menjauhi Dimas. Aku cukup-senang-melihat mereka saling menjauhi.

Niken selalu duduk di bangku paling depan dan jarang sekali menengok ke belakang. Raut wajahnya masih terlihat ceria tidak ada kesedihan di sana. Tapi aku melihat ada sesuatu yang tidak beres.

Seminggu sudah aku berpacaran dengan Dimas tetapi Niken tak menyelamatiku sewajarnya sahabat yang dekat dengan Dimas dan juga sebagai teman satu kelas. Dia memilih menghindar dan menghabiskan waktu istirahat di luar kelas. Niken seperti menutupi sesuatu yang tak akan pernah dia buka.

Sabtu, 01 Maret 2014

First Love Forever Love Part 1


Sumber gambar di sini


Aku memilah baju-baju yang tertata rapi di lemari kayu berpoles plitur yang mengkilap di pojok kamarku yang berukuran 4x5 meter. Kamar ini cukup bisa menguras keringat untuk melakukan aerobik dan lari-larian kecil. Aku mengambil pelan-pelan baju yang tersimpan ditumbukkan paling bawah yang nyaris tak pernah tersentuh. Melebarkan dan mencoba mencocokkan dengan tubuhku yang semakin berubah saja. Mulai tidak rata. Bajuku banyak sekali yang gak pantas aku kenakan lagi. Aku mengerutkan kening dan memulai memilah. Hari-hari pertama di bangku Sekolah Menengah Atas aku cukup menjadi siswi aktif dan tergabung berbagai organisasi mulai dari OSIS, PMR, Paduan Suara dan pencak silat. Jumat sore mendatang aku dan rombongan OSIS akan mengunjungi panti asuhan yang terletak tidak jauh dari Sekolah untuk mengadakan perlombaan dan membantu apa saja yang dibutuhkan anak-anak panti dan salah satunya menyumbangkan baju layak pakai dari anggota OSIS. Aku sangat antusias dengan kegiatan jumat sore mendatang. Rasanya tak sabar terlibat langsung dalam kegiatan OSIS yang sebelumnya pernah pernah aku ikuti.

Langkah kaki terdengar semakin mendekatiku, gagang pintu warna emas bergerak mengikuti perintah. Mama nongol dibalik pintu dengan handuk masih nengkreng di kepalanya. Raut wajahnya sumringah. Sinar matanya bercahaya.

“Mama ngagetin aja si” Aku sewot. Mama menempelkan telunjuknya di bibirnya yang merah lembab seperti diolesi minyak goreng. Aku mengerutkan dahi dan menyipitkan mataku.

“ Ada Dimas di depan”  bisik Mama dengan wajah masih sumringah. Spontan darahku naik kepermukaan pipi, semoga Mama nggak liat wajahku yang mungkin memerah seperti tomat. Aku mengabaikan baju-baju berserakan di lantai dan menyerobot keluar kamar. Mama hanya geleng kepala dan tersenyum. Matanya mengikuti langkah kakiku yang sedikit berlari.

Minggu, 02 Februari 2014

Kalau Bukan Cinta, Lalu Apa? #3








Aku memandangi diriku dibalik kaca. Tubuh memalku terlihat anggun mengenakan dress merah marun dengan ikat pinggang kecil melingkari pinggulku. Bahu dan pinggul terlihat langsing mengenakan dress pilihan Doni. 

Aku mengoleskan bush on peach ke kedua pipiku, menebali bibirku dengan lispstik merah terang. Sempurna. 

Doni menjemputku dengan mobil picantonya yang belum lama dia beli. Jantungku berdebar cukup cepat membuatku susah mengatur nafas. Ini pertama kalinya Doni mengajakku makan malam bersama teman-temannya. Tanggannya terus menggandeng tanganku seperti ibu menggandeng anaknya saat bepergian di pasar. 

Aku saling bertegur sapa dengan teman-teman sekolah s2-nya. Ini malam perpisahan setelah beberapa bulan kemarin mereka di wisuda. Garis wajahnya terlihat jelas dan senyum dibibirnya semakin lebar. Aku senang melihatnya. 

Setelah cukup lama mengobrol dan menghabiskan banyak snack, tiba-tiba datang gadis bertubuh langsing, matanya bulat menyala, bibirnya tipis dan rambutnya dibiarkan panjang terurai. Aku mencermati detail tubuhnya. Sepertinya aku pernah mengenali perempuan itu, tapi siapa dan dimana.

Dia menyalamiku dan menyebutkan namaku pelan. “Dela ya, salam kenal” Ucapnya. Aku berusaha tersenyum dan memamerkan wajah ramahku. 

Nggak salah lagi, perempuan ini yang menggoda kekasihku. Dia yang suka mencuri-curi kesempatan dan bersembunyi dibalik tubuhnya. Dia perempuan yang membuat Doni tertawa-tawa tanpa beban di salah satu tempat makananala  jepang. Perempuan itu teman kuliah S2-nya. 

Aku memukulkan sendok dan garpu cukup keras saat mencoba mengambil stick panas dari wadahnya. Rasanya pengin aku lempar ke wajahnya yang oriental dengan kawat gigi menghiasai giginya. Eneg. 

“Pelan-pelan sayang” Bisik Doni tepat di telingaku. Perempuan ini menyulap situasi menjadi asing untukku dan membuat aku pengin cepat-cepat pergi dari tempat panas ini. Doni sangat nggak peka dengan suhu tubuhku yang mulai mendidih, dia tetap mengobrol dengan perempuan itu dan salah satu laki-laki bertubuh gempal dan berkumis tipis seperti anjing laut.

Sabtu, 01 Februari 2014

Kalau Bukan Cinta, Lalu Apa? #2




Lanjutan dari kisah sebelumnya, yang belum tau klik di sini 


Gerimis pagi ini membuatku malas beranjak dari kasur. Aku mengambil libur bulananku tepat hari minggu. Hari yang cukup melelahkan seharusnya, bekerja di saat semua orang menikmati liburannya. Aku menguap dan menarik selimutku kembali. Mengeliat dan membiarkan tubuhku bermalas-malasan di kasur yang lama aku acuhkan. 



Kring...kring...kring...



Aku mencari ponsel yang entah kutaroh dimana. “aduh siapa si ganggu aja” omelku. 



Aku meraih ponsel tepat di bawah bantal. Tanpa melihat penelponnya, “iya, ada apa?”



“aku, di parkiran ne turun dong” Ucap suara yang tak asing lagi untukku terakhir ini. 



Aku langsung loncat dan membenahi kasurku. Aku tinggal di aparteman yang safety cukup baik. Hanya orang yang mememiliki member card yang bisa naik ke lantai aparteman menggunakan lift, dan aku salah satu penghuni lantai 12 di aparteman minimalis di pusat kota padat penduduk ini. 



Masih menggunakan baju tidur motif bunga berwarna pink dan rambut yang disisir hanya menggunakan jari, aku menelusuri koridor dan turun menemui Roni. Kurasa Doni tak akan datang karena semalam dia berpamitan liburan akhir pekan bersama rekan kantornya. 



“Selamat Pagi Beo Jelek” Roni menyodorkan buket bunga mawar merah dengan tampang konyolnya. Mataku melotot dan nggak bisa berkata-kata. 



“Nggak suka ya?” Aku mendapati wajahnya yang kecewa. 



“aku suka banget, baby” Aku meraih buket mawar dan berlari menuju Lift dan Roni mengejarku. 



@@@@



Pelanggan di butik hari ini nggak seramai biasanya. Aku mulai menggoreskan pensilku ke kertas putih sambil memadupandakan warna. Dalam memadukan warna terkadang sangat membuatku kesulitan. Aku menghela nafas dan mulai menggoreskan pencilku lagi dan nanti aku serahkan kepada ahlinya memadu warna siapa lagi kalau bukan si Sinta. 



Sinta mendekatiku. Matanya sembab dan kerutan di wajahnya sedikit terlihat. Dia merangkulku dan terisak. Aku kebingungan. 



Aku menunggunya bicara dan membiarkan Sinta menangis di bahuku. 



Del, suami gue selingkuh” 



Aku diam. Seperti ada sengatan listrik yang menyambarku. 



“Lo, yakin?” 



Sinta mengangguk dan air matanya kembali merembes semakin banyak. 



“Kemarin malam ada perempuan dateng ke rumah gue, untung laki gue lagi nggak ada. Asal lo tau aja, Perempuan itu udah hamil dan ngakunya itu anak laki gue Del. Sumpah ya gue kayak mimpi buruk”  



Tiba-tiba aja aku nggak bisa komentar apapun untuk Sinta. Aku memeluknya erat. 



“Sabar say, lo jangan gegabah selidikin dulu aja”. 



Ya Tuhan, aku sangat benci perselingkuhan. Selama ini aku diam dan mengubur dalam-dalam ingatanku tentang perselingkuhan Doni dengan rekan kantornya. Entah sudah berakhir atau masih berlanjut aku tak pernah mengambil pusing. Dan kali ini aku mencoba melakukan perselingkuhan dengan cowo asing yang aku temui di cafe favoritku. Ini benar-benar hal gila. 



Aku menutupi lukaku dan membuat luka untuknya. Aku terlalu mudah menebak cinta. Cinta itu saling mengenal, jatuh cinta, perih dan kembali asing. Bagiku cinta sangat mudah ditebak. 



@@@@

Jumat, 31 Januari 2014

Kalau Bukan Cinta, Lalu Apa? #1



“Aku titip gaun pengantin ini ya, nanti mau diambil nona Syla” Ucapku sambil merapikan Gaun pengantin warna putih  dengan kombinasi renda dan bunga pink menyebar di seluruh sisi gaun. Bibirku tak henti tersenyum memandangi gaun pengantin dominasi pink warna kesukaanku. Gerak tanganku semakin lincah saat memeriksa centi demi centi jahitan yang menyatukan bunga kecil berwarna pink dengan gaun berenda pink perak. Jam kerja belum seutuhnya habis tapi aku harus segera keluar dari butik baju pengantin tempatku bekerja. Miss Rena selalu mengijinkan karyawannya keluar sesukanya, mungkin dia udah cukup kaya sehingga tak memperdulikan karyawannya yang bandel sepertiku. Beruntungnya bekerjasama dengan Miss Rena.

“Semoga berjalan lancar ya, Beb” Teriak Miss Rena sambil memandangiku berjalan menjauhi butik. Sinta mengajungkan kedua jempolnya dan mengerling genit. Rupanya teman-temanku sangat memperhatikan aku dan mengucapkan selamat karena hari ini Anniversary-ku yang ke -7 dengan Dony. Berpacaran yang sangat lama. Aku sangat semangat untuk bertemu Dony semoga Anniversary kali ini dia melamarku. Aku menarik nafas panjang dan memanjatkan doa. Senyumku melebar dan langkah kakiku terasa ringan.

Kakiku perih menahan heels yang seharian aku kenakan. Aku mondar-mandir dan tak henti memandangi jam yang melinggar di tangan kiriku. 19.30 seharusnya bertemu jam 19.00. “Mungkin Dony kena macet” batinku menghibur. Aku duduk kembali dan menyeruput mocacinno yang kupesan. Kerongkonganku terasa hangat. Mataku melirik sudut cafe dimana ada seorang cowok duduk dengan laptopnya dan dua cangkir coffe. Mejanya cukup berantakan untuk kulihat. Mungkin dia sudah lebih lama menunggu dibanding aku. Aku mulai bersabar. 

“Maaf sayang, aku telat” Dony mencium pipiku dan mataku masih tertuju ke cowok berambut pelontos  dengan kemeja ungu muda. Aku memukul pundaknya manja. “Kenapa si kamu nggak pernah ingat hari spesial kita?” Bibirku semakin manyun. 

Dony membelai rambutku kemudian tangannya menyetuh hidungku. “Aku ingat, sayang”. Akhirnya aku memaksakan untuk tersenyum. Pramuniaga mendatangi meja kami untuk mengantar coklat hangat dan cup cake lucu yang sudah kupesan.

“Happy Anniversary” Dony menarik tanganku lembut. Aku membalasnya dan tersenyum manja. Setiap hari aku sibuk dengan pekerjaanku di butik baju pengantin dan baby shop online-ku sementara Dony sibuk dengan bisnisnya di bidang property dan kuliah S2-nya. Sikap Dony sangat manis tetapi membosankan. Dia sama sekali tak tertarik membahas tentang pernikahan sementara aku sangat menginginkan pernikahan. Aku sangat antusias membicarakan gaun pernikahan, pesta, siapa yang diundang  dan pakaian bayi.

“Gimana kerjanya hari ini” Dony membuyarkan lamunanku. Aku menatap matanya lekat. 

“Mengasikkan, di tempat kerjaku ini aku bisa ngejalanin online shop-ku lho Miss Rena baik banget. Aku nggak mau ngecewain beliau.” Aku berusaha ceria meski ini bukan topik pembicaraan yang aku harapkan. 

“Syukurlah” Doni mengelah nafas dan tersenyum manis. 

“Apa kita nggak membicarakan sesuatu yang penting” Aku memancing topik yang aku nantikan. Dony mencomot cup cake dan menggigitnya. “Rasanya belum berubah ya” Dia terus mengalihkan pembicaraan. Aku sangat kecewa. Aku menahan diri untuk tidak teriak dengan meremas tanganku sendiri. 

“apa kamu udah gak cinta aku lagi?” Batinku. Sungguh  konyol kalau aku menanyakan hal ini. Aku udah cukup lama bersamanya dan 7 tahun bertahan bukan karena cinta lalu karena apa???

Rasanya aku pengin melempar cup cake ke wajahnya. Gemas. 


Kamis, 21 Maret 2013

Cemburu Telah Membutakan Hatiku

Sumber gambar di sini



Aku dinikahi laki-laki itu adalah kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan secara detail. Aku mengaguminya sejak awal memulai pendidikan di Universitas. Dia laki-laki yang bertutur kata halus, tingkah laku yang sopan, tatapan mata yang menyejukkan, dan dia sangat tampan. Diam-diam aku mencintainya. Aku ingin memilikinya lebih dari seorang sahabat. Tapi aku tak berani untuk mengungkapkan secara langsung, nyaliku tak seberani teman-temanku yang terus mengejarnya.  Aku hanya mengagumi dalam diam.

Hingga lulus Universitas aku masih menyimpan perasaan itu dengan rapi. Dia tak tahu. Dia tetap memperlakukan aku seperti dia memperlakukan teman-temannya. Akupun sebaliknya.

Yang membuatku terus menyembunyikan perasaan ini karena aku takut kehilangan sosoknya yang selalu menemaniku. Aku takut jika nanti aku mengungkapkan, dia akan menjauh dan merasa risih dengan perasaanku untuknya. Aku tak menginginkan itu terjadi.

Setelah kami diwisuda aku merasa ada yang mengganjal tapi sulit diungkapkan.

Kekhawatiran yang mendalam.

Aku akan kehilangan hari-hari bersamanya.

“Yeah aku sudah tidak satu Universitas dengannya, kami akan melanjutkan hidup masing-masing dan memiliki lingkungan baru, itu artinya aku akan kehilangan dia di hariku” Batinku bergejolak.

Seminggu telah berlalu dari kami diwisuda, aku masih menunggu ijazah keluar dan menghabiskan waktu di rumah. Aku sangat kesepian. Pikiranku banyak digunakan untuk memikirkan dia daripada memikirkan pekerjaan yang nanti akan aku jadikan hobby. Ini sangat membuatku murung dan tak melakukan apa-apa.
Aku sangat merindukan tawanya, tatapannya, ceritanya dan semuanya yang ada pada dirinya.

Kurasa aku telah melakukan kebodohan besar dalam hidupku. Aku terus menyembunyikan dan ketakutan dengan apa yang belum tentu terjadi.

Senin, 04 Maret 2013

Cerpen *Secangkir Teh Hangat dan Pisang Goreng*


Keluarga yang pernah menjadi kaya raya itu sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Rumah yang jauh lebih sederhana dari rumah mereka sebelumnya. Rumah dari batu bata tanpa cat dan genting yang mulai rapuh tetapi mereka tetap menjadi keluarga yang bahagia dengan segala yang dimilikinya sekarang. Suatu ketika Santi anak perempuannya dan Sandy anak laki-lakinya mengalami kecelakaan maut saat mengendari mobil peninggalan ayahnya. Mobil yang mereka naiki menabrak sebuah beton batas marka jalan dan terjun ke jurang. Entah karena remnya bolong atau kelalaian ataukah karena ketebalan kabut.

“Ibu pasti senang mendengar kabar  ini ya dek” Ucap Sandy sambil terus memacu gas menelusuri jalan yang berliku dipinggir jurang curam. Sandy sangat tidak sabar sampai di rumah dan menyampaikan kabar bahagia atas diterimanya ia di suatu perusahaan besar.

“iya kak, kakak menjadi manager di perusahaan besar itu impian ibu dan juga ayah, sayang ayah nggak bisa menyelamati kakak secara langsung” Raut wajah Santi seketika berubah sendu. Tangannya meremas-remas baju bagian bawah.

“Sudahlah dek, ayah pasti bahagia di sana? Kamu harus cepat menyelesaikan kuliahmu dan bekerja untuk membahagiakan ibu serta tinggal di rumah yang lebih layak” Sandy mengelus kepala adiknya yang berbalut jilbab dengan penuh kasih sayang.

Mobil terus melaju. Kabut semakin tebal di permukaan jalan. Lampu tak mampu lagi menyorot 5 m dari pandangan mata. Sandy memperlambat laju mobilnya.

“Kak, apa sebaiknya kita berhenti aja” Usul Santi cemas. Duduknya tak lagi nyaman, kerut dahinya tampak jelas. Keringat dinginnya bercucuran.

Senin, 11 Februari 2013

Baju Pengantin Impian

sumber gambar di sini 
"Terima kasih kadonya sayang, aku suka"

"Aku pengin kamu memakai gaun ini saat pernikahan kita nanti"

"Kita akan menikah?"

"Iya sayang, aku ingin kamu menjadi ibu untuk anak-anakku"

hening.....

Sore itu aku menghabiskan waktu memandangi bentangan laut yang berbinar-binar. Matahari masih bersinar cukup terik menyengat kulitku. Aku duduk memainkan butiran pasir putih yang membentang luas memenuhi pantai. Kepiting-kepiting kecil berlarian tersapu ombak. Tenang dan sepi. 


Aku sangat menyukai ketenangan pantai dan ketenangan senyumannya yang selalu menghiasi wajah itu. Sentuhannya yang lembut selalu membuatku nyaman. Keceriaannya selalu aku rindukan. Dia gadisku yang manis. Masih dan selalu hangat di dada ini.

"Paul" suara  serak-serak basah itu sering memanggilku pelan. 

"Iya, sayang" Aku memegang wajah dengan kedua tanganku. 

Air matanya mengalir di pelupuk matanya. Tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Membuatku tak tega untuk meninggalkannya. Ingin rasanya terus di sisinya, membuatnya tertawa dan mendengarkan cerita-ceritanya. 

"I will get back" 

Wajahnya yang sayu mengangguk pelan dan meninggalkanku. Aku tahu dia tak ingin membuatku terbebani dengan kesedihannya. Tangannya mengusap air matanya dan mempercepat langkahnya. 

Aku berlari dan merangkulnya. 

"Aku harap kamu akan menungguku kembali"

Sabtu, 04 Agustus 2012

Aku Ingin Nikah Muda


Sepertinya aku harus mengubur semua angan-anganku di masa muda dulu. Semua keinginan itu tak akan terwujud lagi. Aku mulai membereskan rak-rak buku yang memenuhi kantor kerjaku. Aku sudah bertahun-tahun bekerja menjadi Sekretaris Direktur di perusahaan swasta di Jakarta. Orang bilang aku tipe cewek yang selalu mengejar karier setinggi-tingginya tanpa mementingkan cinta. Pernikahan. Mereka semua salah. Aku ingin sekali menikah muda. Memiliki anak dan menjadi ibu rumah tangga. 

“Del, elo tahun depan udah kepala 3 lho. Masa lho nggak nikah si? Elo nggak takut apa?” Ucap Tika teman sekantorku. Pertanyaan Tika dan beberapa orang disekitarku tak hanya sekali dua kali mereka lontarkan. Sering. Bosan. Aku sangat bosan dengan pertanyaan yang seakan-akan memojokkanku. Menganggapku nggak laku. Mengolok-olok aku perawan tua.
 
Sering kali aku menangis. Bahkan aku menanyakan pada diriku sendiri kapan aku akan menikah. 

Selasa, 29 Mei 2012

Andai Kamu Tahu...


Apa aku tak pantas untuk kamu perkenalkan di depan teman-temanmu, teman-temanku juga lebih tepatnya. Aku di antara mereka memang sangat tersisih. Mengapa kamu melakukan hal yang sama juga untukku. Meski kamu sudah melakukan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Kamu menyatakan jatuh cinta padaku. Saat itu aku seperti mimpi. Ya mimpi di siang bolong. Ada seorang pria menyukaiku. Padahal teman-teman di sekelilingku saja tak pernah menganggapku sebagai teman. Tuhan, salahkah aku???

Aku pikir setelah kamu menyatakan suka kepadaku, dunia akan berbeda tak seperti dulu aku yang  selalu sendiri. Ya setidaknya ada kamu yang menemaniku. Tetapi semua dugaanku salah. Kamu masih seperti mereka yang terlalu cuek terhadapku.  Seolah kamu menjadi orang lain untukku, padahal jika tanpa mereka kamu selalu lembut kepadaku. Kamu sosok yang menyenangkan saat tak ada mereka. Mengapa harus begitu, kasih???


Sabtu, 19 Mei 2012

Mengenangmu Sebelum Dia meminangku

Aku masih sering mendatangi cafe di pinggir bukit itu seorang diri. Hanya vanillatte yang menemaniku saat aku merindukanmu. Aku sangat merindukan saat-saat berada di sisimu. Aku  masih mengingatmu nyaris sempurna saat kamu tersenyum sambil bercerita. Sesekali menyeruput kopi yang kamu pesan, dan kembali bercerita. Aku hanya tersenyum geli mendengarkan cerita konyol yang kamu ceritakan. Kita selalu berebut bercerita dengan gaya khas kita masing-masing.

Lesung di pipimu masih tergambar nyata di memori otakku. Sangat nyata. Jemarimu yang menggenggam tangankupun masih terasa hangat hingga kini. Entahlah mengapa aku sangat pintar berhalusinasi tentangmu. Aku masih belum bisa melupakanmu dan menepismu dari gerak kehidupanku. Dirimu sudah lama menjadi penghuni hatiku hingga sulit untuk ditiadakan.

Rasanya tak cukup waktu 24jam untuk sendiri dan mengenangmu. Mengenangmu sangat menyenangkan meski terkadang membuatku menitikkan air mata.

Aku kembali mendatangi tempat favorit kita 5 tahun lalu. Aku masih mengenakan jeans ketat sepatu boots hadiah ulang tahunku darimu dan jaket berbulu. Udara di sini sangat dingin. Sepertinya lebih dingin kali ini dibanding saat ada kamu di sini. 

Jumat, 09 Maret 2012

Lebih Lama Lagi....

Sumber gambar di sini
Mungkin aku bisa mengerti  saat kamu marah saat kamu ada masalah. Bahkan aku selalu rela mendengarkan semua uneg-uneg yang sedang kamu alami saat itu dan mungkin sejak aku mengenalmu aku sanggup melakukan itu, hanya untuk sebuah alasan AKU SAYANG KAMU. Aku berusaha mendengarkan meski segala emosi kamu semua ditumpahkan ke aku yang sama sekali gak tahu apa-apa. Aku diam. Ini semua tidak hanya sekali tapi berkali-kali hingga mungkin aku kebal. 

Kali ini sungguh aku ingin menghindar darimu untuk sementara waktu agar kamu mengerti bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi masalah. Bukan hanya mengunakan emosi. Bukan dengan mengunakan akal gilamu yang sungguh membuatku tak habis pikir. mengapa kamu begitu sulit menangkap semua yang sudah kujelaskan. Mengapa kamu begitu susah memahami aku. Tolong sedikit saja memahami aku. Hanya sedikit. 

Selasa, 28 Februari 2012

Saat Aku Kehilangan



Aku sudah biasa menapaki krikil-krikil yang bertebaran di jalanan, menyapu kringat dengan punggung tangan dan mengusap debu yang menempel pada pipiku. Aku sudah biasa itu. Keluar masuk angkutan umum, berdesalan dan bergelayutan mencari pegangan itu hal yang tak asing lagi untukku. Berpura-pura tidur di bus umum karena tak punya ongkos lagi itu sering kali menjadi pilihanku. Saat itu yang kumiliki itu selalu cukup dan aku harus pintar membaginya untuk semua kebutuhanku. Ketika itu Aku hidup merantau sendiri, ya aku tak lagi bersama Mamah. Apalagi Papah, sejak Kecil Papah meninggalkan aku dan Mamah tuk selamanya.



Saat itu kondisi ekonomi keluarga semakin memburuk. Mamah terpaksa harus bekerja untuk menghidupi aku dan dirinya. Mamah bukan tipe wanita yang rapuh mudah mengadu kepada orang tua atau meminta belas kasih. Mamah wanita yang tegar. Aku sangat mengagumi Mamah. Mamah juga tak ada niat untuk menikah lagi. Padahal Mamah itu cantik, elok dan mempesona untuk pria dewasa. Mamah menyayangiku dan tak ingin ada orang lain menggantikan Papah di hati Mamah.

Minggu, 26 Februari 2012

Cerpen *Persahabatanku dengan Vani*

Sumber gambar di sini


Aku mahasiswa universitas swasta di Jakarta yang teropsesi menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin yang banyak dicari anak muda dan ibu-ibu gaul. Aku si tak terlalu pintar tapi tekatku belajar lumayan bisa diajungi jempol. Yang patut diajungi jempol kaki sekaligus itu sahabatku Vani, mahasiswa yang hampir mencetak nilai A untuk setiap makulnya. Hafalan seperti Farmakologi, anatomi fisiologi dan segalanya dia babat tuntas. Aku hanya tersenyum kecut. Tapi dia tetap sahabatku yang selalu ada di sampingku di saat aku gundah dan gulandah.

Jumat, 06 Januari 2012

Aku mencintai Wanita



Aku ingin merasakan getaran cinta dari seorang pria. Aku ingin merasakan kenyaman dari sentuhan seorang pria. Aku ingin merasakan perlindungan dari seorang pria.

Aku berdiri seorang diri di tepian pantai menerawang jauh ke ujung pandang hingga batas kasat mata. Aku mematahi setiap sudut kuku dengan gunting kecil yang selalu kukantongi. Tatapanku kosong tak terarah. Aku sangat galau dan kurasa ini versi akut yang pernah aku alami sepanjang usiaku. Suhu tubuhku juga naik turun. Aku benar-benar bimbang dengan perasaan dan daya pikirku ini. 

Kamis, 17 November 2011

Cerpen [Mama, Aku Bukan Gadis Yang Sempurna]


“ Ini anakku, namanya Tina” Mama mengenalkan aku kepada  teman lamanya. Tante Sita cantik dan terlihat muda, tapi gak ada yang melebih Cantik mamaku. Aku kembali duduk di samping Mama sambil memegangi Dress merah marun yang dikenakan Mama. Tante Sita memandangiku dengan kening berkerut. 

Rabu, 16 November 2011

Cerpen {Sahabatku Yang menikah dengan suamiku}


Aku hanya mampu mengurung diri di sudut kamar dengan tangan yang selalu mencambak-cambak rambut panjangku yang ikal. Aku selalu menyakiti diriku sendiri. Sejak perceraian itu menimpaku, aku tak mampu berdiri pada pijakanku. Aku kehilangan keseimbangan dalam roda kehidupanku. Aku seakan tertampar hebat saat kedua buah hatiku harus dibawa oleh mas Surya. Ya, itu sangat membuatku hancur dua kali. Sangat. 

Jumat, 16 September 2011

Cerpen [Dilema]




Kekosongan hati yang bertahun-tahun kurasakan tak dapat memberikan ketenangan batinku. Rasa bersalah yang kupendam terus menerus akhirnya meledak. Aku tak sanggup melewati hidup tanpanya. Perempuan yang telah sekian tahun kutinggalkan. Apakah pantas diri ini untuk mengucap kata maaf. Memohon untuk kembali kepadanya. Hatiku galau. Aku resah. Aku tak dapat mengendalikan ego-ku lagi. 

Sabtu, 10 September 2011

Cerpen [Penantianku]




Aku duduk di bawah payung berukuran jumbo di pinggir Pantai. Romantis sekali. Dengan menggunakan Dress hijau ku menyeruput jus jeruk pesananku. Segar. Menunggu kekasihku.

Mataku tertuju pada Pria yang tak asing lagi kulihat mendekatiku, serta keranjang berpita merah marun di kedua sisi tangkainya. Aku tersenyum kepadanya. 

Jumat, 09 September 2011

Cerpen [Hancur]









“ Sorry, gue gak bisa ngelanjutin hubungan ini, lebih baik loe cari cowo yang lebih baik dari gue, loe cantik, elo punya segalanya, gue,,,gue hanya pecundang yang gak punya masa depan. Demi loe tolong jauhin gue. Jangan ketemu gue lagi, gue gak mau loe semakin menderita dengan sikap gue ke loe.”

“ Ulangin!!!! gue gak salah denger. Loe gak salah ngomong gitu ke gue, loe mikir dong, gue gini karena loe, gue justru menderita  jika loe nyuruh gue jauhin loe”. Air mataku merebah menelusuri tulang pipiku. David memegang pundakku menggoncangnya keras. 

 

Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang