Minggu, 02 Februari 2014

Kalau Bukan Cinta, Lalu Apa? #3








Aku memandangi diriku dibalik kaca. Tubuh memalku terlihat anggun mengenakan dress merah marun dengan ikat pinggang kecil melingkari pinggulku. Bahu dan pinggul terlihat langsing mengenakan dress pilihan Doni. 

Aku mengoleskan bush on peach ke kedua pipiku, menebali bibirku dengan lispstik merah terang. Sempurna. 

Doni menjemputku dengan mobil picantonya yang belum lama dia beli. Jantungku berdebar cukup cepat membuatku susah mengatur nafas. Ini pertama kalinya Doni mengajakku makan malam bersama teman-temannya. Tanggannya terus menggandeng tanganku seperti ibu menggandeng anaknya saat bepergian di pasar. 

Aku saling bertegur sapa dengan teman-teman sekolah s2-nya. Ini malam perpisahan setelah beberapa bulan kemarin mereka di wisuda. Garis wajahnya terlihat jelas dan senyum dibibirnya semakin lebar. Aku senang melihatnya. 

Setelah cukup lama mengobrol dan menghabiskan banyak snack, tiba-tiba datang gadis bertubuh langsing, matanya bulat menyala, bibirnya tipis dan rambutnya dibiarkan panjang terurai. Aku mencermati detail tubuhnya. Sepertinya aku pernah mengenali perempuan itu, tapi siapa dan dimana.

Dia menyalamiku dan menyebutkan namaku pelan. “Dela ya, salam kenal” Ucapnya. Aku berusaha tersenyum dan memamerkan wajah ramahku. 

Nggak salah lagi, perempuan ini yang menggoda kekasihku. Dia yang suka mencuri-curi kesempatan dan bersembunyi dibalik tubuhnya. Dia perempuan yang membuat Doni tertawa-tawa tanpa beban di salah satu tempat makananala  jepang. Perempuan itu teman kuliah S2-nya. 

Aku memukulkan sendok dan garpu cukup keras saat mencoba mengambil stick panas dari wadahnya. Rasanya pengin aku lempar ke wajahnya yang oriental dengan kawat gigi menghiasai giginya. Eneg. 

“Pelan-pelan sayang” Bisik Doni tepat di telingaku. Perempuan ini menyulap situasi menjadi asing untukku dan membuat aku pengin cepat-cepat pergi dari tempat panas ini. Doni sangat nggak peka dengan suhu tubuhku yang mulai mendidih, dia tetap mengobrol dengan perempuan itu dan salah satu laki-laki bertubuh gempal dan berkumis tipis seperti anjing laut.
 
Aku menguap panjang saat sampai di mobil Doni dan nggak sabar pengin cepat-cepat sampai kamar dan tidur pulas. Doni membiarkan aku diam sambil mendengarkan alunan musik pelan. 

@@@@

Sore ini hujan turun cukup deras. Aku membatalkan pengiriman pesanan online langgananku ke JNE. Aku menyeduh kopi dan menikmatinya di balik jendela. Aku sangat merindukan Roni. Tak terasa air mataku menetes. 

Ponselku berbunyi.

Aku masih tetap memandangi jendela dan tak memperdulikan ponselku. 

“Haloo” Doni tiba-tiba udah berada di aparteman dan tanpa basa-basi mengangkat telepon untukku. 

“Halo... Halo” Rupanya orang yang menelponku terdiam saat mengetahui ponselku di pegang Doni. Darahku mengalir dan detak jantungku mendadak terpacu cepat. 

“Coba sini kasihkan aku” Aku mencoba meraih ponselnya. Doni bersikukuh mengangkat telpon dan menyalakan speaker.

“Halo” akhirnya dia menjawab. 

“Ini siapa? Gue calon suami Dela” Ucap Doni tegas. 

Beberapa menit diam. “Gue Roni dan cewek lo yang merayuku duluan dan saat ini aku mencintainya” Ucapnya kemudian. 

Mata Doni melotot ke arahku. Jantungku seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik. Aku meraih ponsel dan mematikan telepon. 

“Ih dasar orang usil” Aku mengomel dan memaki-maki orang yang aku anggap usil itu. Doni percaya. Aku menghela nafas lega. 

“Ujannya udah reda, aku mau ke JNE dulu ya” Aku berusaha menghindari Doni. 

Doni menatapku. “Kenapa akhir-akhir ini kamu bukan seperti Dela yang kukenal” Ucapnya. 

“Ah masa si sayang, aku tetap Dela kamu” Aku memeluknya. Doni membalas pelukkanku. 

“I love you” Bisiknya.

Doni jongkok di depanku dan membuka kotak silver berisi cincin dengan mata satu menghiasai salah satu sisi cincinnya. Aku kaget. 

“Will you merry me?” Ucap Doni malu-malu sambil mencium punggung tanganku. Lidahku mendadak terkena strok dan susah sekali digerakkan. Setelah sekian lama aku menunggu pernikahan dan hari inilah aku dilamar kekasihku, Doni. 

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku loncat dan berteriak bahagia. Ia itu hanya seharusnya. Faktanya aku ingin menangis sekerasnya. 

Aku mengangguk dan tersenyum. Senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Doni memasukkan cincinnya ke jari manisku. “Pas” ujarnya puas. 

@@@@

Bunda dan kakak perempuanku mendatangiku. Mereka membantu persiapan pernikahanku bersama Doni. Rencananya aku dan Doni melangsungkan akad nikah terlebih dulu kemudian setelah mengambil cuti kerja bersama kami melangsungkan resepsi dan bulan madu seminggu setelah akad. 

Aku menyiapkan sendiri mulai dari pakaian, souvenir, desain undangan, dekorasi bahkan sampai menu makanan. Aku tak mau semua terlihat biasa saja. 

Dalam batinku sedang berperang melawan isi hati dan pikiran. Aku ragu-ragu dengan pernikahanku. Sejujurnya aku masih mencintai Roni, laki-laki yang tak sengaja mengisi hatiku dalam waktu yang sangat singkat.

“Selamat ya nak, akhirnya kamu dilamar juga” Ledek ibu dengan senyumnya sedikit genit. 

“Saat bunda akan menikah apa bunda bahagai” Tanyaku polos. 

Sepertinya bunda kebingungan dengan pertanyaanku. “Tentu dong, seperti yang kamu rasakan hari ini” Ucap bunda. 

“Aku memang bahagia bun, tapi rasanya ada sesuatu  yang hilang dan itu rasanya sakit banget” Aku mencoba jujur. 

“ Maksudmu kamu nggak cinta Doni lagi. Apa kamu ragu-ragu sama perasaanmu setelah 7 tahun menantikan pernikahan dan saatnya tiba kamu meragu” Ibu mulai paham isi pikiranku. 

Aku diam dan menunduk. “Bersatunya cinta bukan dilihat dari lamanya membangun suatu hubungan tetapi seberapa besar cinta yang membuatmu nyaman di sampingnya tanpa mengenal waktu”. Perkataan Bunda membuatku memikirkan keputusanku kembali. 

“Bun, aku pinjem mobil kakak ya” Aku meraih kunci yang tergeletak di meja tamu dan bergegas pergi tanpa melihat respon bunda yang terlihat kebingungan. 

Aku semakin yakin untuk mengatakan kalau aku jatuh cinta dengan Roni. Sebelum kesempatanku hilang setidaknya aku pernah mengatakannya. Aku memacu gas lebih cepat. Jarak rumah bunda ke rumah Roni hanya 30 menit saja. 

Sebelum aku memarkirkan mobil aku melihat Roni keluar dari balik gerbang besinya. Senyumku ceria dan segera membuka pintu dan mengampirinya. Roni hanya diam tanpa berekspresi, mungkin dia masih nggak yakin kalau aku berdiri di depannya. Setelah beberapa bulan aku menghindarinya. 

“Hai” senyumku melebar. Roni tersenyum. 

Aku hampir saja memeluknya. Kakiku tiba-tiba terhenti saat cewe berpostur tubuh lebih pendek dariku, mengenakan mini dress coklat dan rambutnya yang ikal dikucir kuda keluar dari balik gerbang dan menatapku bingung. 

“Ah pasti Si-sil, Sisilya ya” Aku mencoba tetap memamerkan senyum lebarku. Cewek itu mengangguk dan masih belum ramah menatapku. 

Aku membalikkan tubuhku dan menatap ke atas, semoga air mataku nggak tumpah. Aku mengambil undangan pernikahanku di dalam tas. Cukup lama dan mata-mata itu melihatku semakin membuatku kesulitan mencari undangan itu. 

“Teret..., lusa aku menikah lho” aku menodorkan undangan ke arah Roni yang masih menatapku. Roni menyambutnya tanpa tersenyum. Tuhan, situasi ini benar-benar membuatku salah tingkah. 

“Ron, kamu eh lo dateng ya bareng sama lo juga ya sil” Ucapku kemudian. Aku langsung kembali ke mobilku. Aku membalikkan tumbuhku sebentar, “Oia, kalian sangat serasi” Suaraku sangat nggak oke dan terdengar seperti terisak. 

Aku memundurkan mobilku, Roni menatapku tanpa berkedip sementara Sisil memelototi Roni. Aku ingin cepat-cepat meninggalkan rumah mereka. Entah mengapa aku jadi kesulitan menyetir. 

Air mataku tumpah setelah meninggalkan rumah mereka. Isak tangisku keluar lepas. Ini sangat menyakitkan lebih dari yang kemarin. Rasanya ingin mati saja. 

@@@@

Aku siap dengan gaun pengantin putih berpayet silver hasil desainku sendiri di kamar pengantin. Mataku sangat sembab membuat periasnya kewalahan membuatku terlihat cantik. Sinta terus menghiburku dan meyakinkan aku. Hari ini akad nikahku dengan Doni laki-laki pujaanku yang selalu aku pertahankan. Tetapi entah perasaan apa yang kini mengganduli pikiranku dan membuat mood-ku sangat buruk. Di hari bahagiaku sedikitpun aku nggak bisa tersenyum. 

Inilah kenyataan yang harus aku hadapi, mencoba membalas perselingkuhannya dan aku terjebak dalam cinta  yang sangat menusuk hati. 

Doni tersenyum sumringah saat akan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan dan tamu undangan. Wajahku masih belum bisa  rileks untuk tersenyum. 

“Dela gugup banget mungkin dia sangat berdebar-debar” Ucapan itu terdengar pelan di kupingku. Rupanya para tamu belum bisa menebak suasana hatiku. 

Seluruh tamu undangan yang hanya terdiri dari 20 orang diam dan berkonsentrasi mendengarkan pernyataan kami. 

“Tungguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” Aku menoleh dan mataku seperti akan keluar saat aku melihat Rony dengan kemeja garis warna hitam dan celana kain hitam berlari mendekatiku. 

“Aku mencintai Dela, dan Dela juga mencintaiku” Ucapnya lantang membuat para tamu asik berbisik-bisik dan tercengang. 

“Dasar Brengsek” Doni menonjok wajah Roni. Roni terjatuh dan hidungnya mimisan. Aku mendekati Roni.

 “kamu udah Gila” Ucapku sambil menatapnya iba. 

Doni menatapku, “Kamu kenal dia” ucap Doni sambil menunjuk Roni yang masih tersungkur di lantai. 

“Iya, aku pernah mencintainya, dan kamu juga berselingkuh dengan perempuan itu kan” Aku menunjuk perempuan teman kuliah Doni yang juga hadir di akad nikah kami tanpa rasa malu.

Aku berpura-pura buta dan melupakan perselingkuhanmu dengan perempuan itu dan aku berteman dengan dia sampai akhirnya aku jatuh cinta”.

Doni menatapku penuh amarah dan aku berlari meninggalkan kerumunan orang yang seharusnya menyaksikan janji suci kebahagiaanku dan Doni. Pernikahan yang aku nantikan resmi batal. 

Air mataku kembali terbuang sia-sia. Roni mengejarku dan meraih tanganku. Aku tak berani menatapnya. 

“ I Love You, Dela” Ucapnya penuh harap. Mata Roni terlihat memerah dan suaranya hampir hilang.

“Sayang sekali, aku nggak percaya kata-kata itu lagi” Aku melepaskan pegangannya dan mengusap air mataku. Aku berlari meninggalkan Roni. 

“Aku akan terus mengejarmu, Del karena aku yakin kamu memiliki perasaan yang sama kayak aku” Teriak Roni. 

Cinta yang mampu membuatku bertahan untuk terus berada di sisinya dan tanpa cinta semuanya akan kembali rapuh. Hanya cinta yang mampu menutup lukaku dan ketika cinta itu pergi, luka itu kembali menganggah dan tak akan pernah bisa kering. Semua karena cinta, kalau bukan cinta lalu apa?????


@@ END @@

  http://www.dbc-network.com/?id=kantongberlianku

0 komentar:

Posting Komentar

 

Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang