Jumat, 09 September 2011

Cerpen [Hancur]









“ Sorry, gue gak bisa ngelanjutin hubungan ini, lebih baik loe cari cowo yang lebih baik dari gue, loe cantik, elo punya segalanya, gue,,,gue hanya pecundang yang gak punya masa depan. Demi loe tolong jauhin gue. Jangan ketemu gue lagi, gue gak mau loe semakin menderita dengan sikap gue ke loe.”

“ Ulangin!!!! gue gak salah denger. Loe gak salah ngomong gitu ke gue, loe mikir dong, gue gini karena loe, gue justru menderita  jika loe nyuruh gue jauhin loe”. Air mataku merebah menelusuri tulang pipiku. David memegang pundakku menggoncangnya keras. 

 

“ Loe harus balik ke rumah loe, gue gak mau loe ikut menderita”. David menatapku tajam.

“ Loe lupa dengan janji gue??, gue akan trima apapun kondisi kita, kita sayang”. Aku menggenggam erat tangannya. 

“ Lupakan itu Prita, gue dan loe beda, loe terlalu baik untuk gue”. David melepas genggamanku dan melangkah pergi. 

“ Daviiiiiiid...dengerin gue, daviiiiiddddd............gue mau loe, hanya loe dav......” David tetap berjalan tanpa menghiraukanku. 

Aku telah diusir dari kontrakan, kontrakan yang telah menampungku dan david setahun terakhir ini terpaksa kami tinggalkan karena tunggakan yang tak mampu kami bayar. Aku tak tau harus melangkah kemana?? Pulang atau menyusul David. Batinku bertanya apa ini jalan terbaik bagiku jika aku mengikuti David. Kurasa masalah itu tak harus ditinggalkan namun diselesaikan. Ku rasa jalan pikirnya memang sangat pendek hingga tega membiarkanku jalan seorang diri di tengah malam.

Ku hisap butung rokok yang kupungut dari trotoar. Ku duduk di atas atap gedung dengan ditemani sorot lampu yang berebutan menerangi jalan yang kulihat tak pernah sepi itu.Pikiranku menerawang jauh. Orang tuaku pasti akan menertawakan pria pilihanku, mencemohku dengan hujanan ejekan yang tak kunjung berhenti. Aku belum sanggup untuk mengatakan aku salah memilih pria untukku nikahi. Aku tak berani terlalu jauh mengakui kesalahanku. Aku masih berharap David kembali mencariku, dan mengatakan " Sorry, kemarin gue terbawa emosi". Atau " Sayang kembalilah padaku, kita bangun dari nol lagi". 

Ku hirup dinginnya malam seorang diri, David...biasanya dia dipangkuanku menemani malamku menyaksikan sorot lampu. Kini ku hanya sendiri menatap kosong. Apa masa depanku ada di depan sana??

Pernikahanku dengan David memang membuatku keluar dari rumah orang tuaku. Aku gak mau mempermalukan keluargaku sehingga memilih untuk pergi. Aku memilih hidup bersama David dengan segala kekurangannya. Menentang Ayahku demi David kekasihku. Kala itu memang aku sangat kekanak-kanakan hingga membuatku lebih memilih Pacar daripada Keluarga. Semudah itulah keluarga tergantikan oleh kekasih.

Aku tahu mengapa dia begitu padaku, dia merasa rendah sebagai suami tak pernah cukup menghidupiku. Sesungguhnya aku tak peduli itu. Ada dia di sisiku cukup memuatku kuat. 

Mataku pegah, kering, pegal....

Pernikahanku hancur...

“ Hahahahahahaha,,,,Rupanya elo sendiri prita,,” Pria berambut panjang tertawa puas mendekatiku. 

“ Kita pake saja dia Bos, biar David kapok”, Pria bertato memberikan ide konyol yang membuatku 
ketakutan. Pria berambut panjang menarikku dalam pelukannya. Aku beronta kuat. Lengannya semakin kuat menyengramku.

“ Lepasin gue............”

“ hahahahahahaha....hahahahhahahaha” Tawa itu menggema di sudut gendang telingaku. 

Mereka melucuti pakaianku satu persatu,,, 

Aku meronta sekuat tenaga, namun aku terlalu lemah dihadapan 2 pria itu. Aku kalah. Aku hanya mampu menendang tanpa energi. Tawa itu semakin nyata menertawaiku. 

Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku,,, 

Pria-Pria itu bergilir menerkamku...

Hancur...Aku telah ternoda...sangat-sangat tak dihargai. 

Ku Raih belati yang terselip di saku baju pria berambut panjang yang terlempar di sisiku, amarahku membara,,pikiranku tak dapat berpikir dengan jernih,,

Dengan sisa energiku ku raih belati itu, kebencian dan kemarahan membuatku menusukkan belati itu ke pria bertato. Tanganku bergetar hebat...

Darah segar mengucur di perutku...

Amis.......

“ Jangan mendekat,,,Belati ini juga akan menyayat tubuh loe jika loe gak melangkah mundur”. 
 Mataku memerah dan penuh kebencian yang teramat sangat besar. 

Pria berambut panjang yang hanya mengenakan celana dalam itu melangkah mundur. Aku 
mendekatinya dengan mengajukang belati berlumuran darah. 

“ Jangan bunuh gue.....” Pria itu memohon ketakutan. 

Aku tak bergeming, aku tetap kukuh pada pendirianku...

“ Kita akan mati di sini, menusul teman elo itu. Gue gak akan membiarkan loe hidup. Gak akan...” Suaraku memecah malam. Ayunan yang kuat dan cepat menyebabkan belati itu mendarat di Perut pria berambut panjang. 

“ Keparat....” Suaranya terbata dan tersungkur jatuh. 

Aku lemas, kakiku seakan tak memiliki tulang sehingga membuatku terjatuh 

Air mataku kembali menetes panas

“ Tiiiiiiiidddddddddddddaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk” 

Polisi telah memapahku masuk ke dalam teruji besi, tak satupun orang mendengarkan penjelasku. 

Mereka menudingku pembunuh. "Pembunuh tetap pembunuh".

Aku bukan pembunuh. Aku membunuh karena melakukan perlawanan kepada orang-orang yang melukaiku. 

Aku tak salah,,,

Aku membela diri,,,
Aku tetap terkurung dalam teruji besi itu...
Aku benar-benar hancur tak tersisa...Tak ada bagian yang mampu kuperbaiki..
Tak ada lagi.....
Kehancuran itu merebah keseluruh organku...

Tak seorangpun mempedulikanku...menyisihkanku,,,

Aku benar-benar tak berguna dan tak di harapkan...

Aku ingin mati membusuk di balik teruji ini





0 komentar:

Posting Komentar

 

Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang